Sabtu kemarin aku nonton wayang semalam suntuk, dari jam 21 hingga jam 04 jelang subuh. Dalangnya Seno Nugroho, tempatnya Pasar Talok, Gendeng, Jogja. Penyelenggaranya Kelurahan Baciro, dalam rangkaian pentas seni di berbagai tempat dalam rangka HUT Kota Jogja ke-255 (terlahir 7 Oktober 1756, ditandai dengan masuknya Mangkubumi ke Keraton Jogja. Tanggal kelahiran ini sama dengan HKBP, 1850-an). Lakonnya: Jumenenge Pringgondani.
Setahunan lalu (?) saya nonton cerita yg sama persis, dengan dalang yg sama, sinden juga 7-9 orang itu (seorang di antaranya cantiknya cemlorot tenan). Bedanya waktu itu judul lakonnya adalah: Gathotkoco Winisudo. Ada bintang tamu yg banyak: Siapa Gareng (?), Cak Dikin dan Nurhana bersama wadyobolo mereka. Ada Mr. Mendem dan Tragedi Tali Kotang, selain –sudah barangtentu— Caping Gunung. Tempatnya: ex stasiun Ngabean. Sponsornya: Hanafi Rais, dengan dana tak terbatas –tapi akhirnya kalah tipis dalam pilkada Kota Jogja bulan lalu. (Kasihan betul dia itu. Saya tidak tahu, siapa yg berkehendak agar dia jadi walikota: dirinya, bapaknya, ibunya, atau orang2 berjiwa kerdil yg tak punya nyali maju sendiri…? Yg maunya cari untung saja tapi selamat dunia akhirat…? Anak ini, dalam pidatonya, terkesan belum cukup matang. Persis Gathotkoco. Bedanya si Gathut benar2 dilantik, Hanafi gigit jari. Milyaran duit melayang –risiko yg pastinya telah diduga sebelumnya.)
*
Syahdan Brojodento telah mengikhlaskan negoro Pringgondani dikelola oleh kakak-perempuannya: Arimbi. “Mengikhlaskan”, karena –menurut Durno dan Sengkuni– jabatan raja itu harusnya ada di tangannya, setelah Raja Arimbo sebagai anak mbarep tewas (entah di tangan siapa….Pandu?). Arimbi perempuan, tidak berhak, tidak pantas jadi raja menurut paugeran kenegaraan pada zamannya. Dan ketika Arimbi akan melintirkan kekuasaan itu kepada anaknya, Gathutkoco, Brojodento tidak mau menerimanya –atas bisikan Durno. Sesungguhnyalah Brojodento menghikhlaskan itu, karena dulu telah bersumpah di depan Arimbi, tapi nalar yg disodorkan Durno sangatlah masuk akal.
Maka ketika Brojodento diajak saudara-kembarnya Brojomusti untuk bertandang ke Pringgondani menyaksikan pelantikan Gathutkoco, dia menolak keras dan meminta Brojomusti berpendapat serupa dengannya. Tapi Brojomusti emoh: “Aku ksatria…sumpahku mengikatku, disaksiken Tuhan Ingkang Murbengjagat. Logika kenegaraan hanyalah ciptaan menungso… bisa salah, bisa diubah. Aku tak akan nyusrup ludah yg telah kutumpahkan sendiri!!!”
Brojodento kalap. Dihajarnya Brojomusti yang, ditemani Kolobendono yg idiot tapi lurus nalar dan hatinya, memilih bergegas lari ke Pringgondani.
Sementara itu Pringgondani sudah penuh sesak oleh tamu undangan yg gagah-gagah anggun perbowo. Mereka resah, Brojodento dan Brojomusti tak kunjung hadir. Para penggedhe tidak sabar, maka upacara wisuda Raja Gathukoco dilaksanakan tanpa kehadiran kedua paman itu.
Begitu acara selesai, Brojomusti tiba dengan nafas terengah-engah, menceritakan maliking hati Brojodento. Arimbi tersengat. Teriakannya melengking menyayat hati. (Mataku berkaca-kaca hampir menangis. Sebagai ibu, proteksinya terhadap Gahutkoco tak terbatas. Bisa kubayangkan, betapa kemropoknya Bu Amin atas kalahnya Hanafi…mungkin.)
Arimbi: “Kok koyo mengkono kowe, Brojodento. Kok ra mbiyen-mbiyen kondho nek kowe pingin dadi ratu…?! Mreneo, Brojo, tak tandangi. Koyo lenang-lenango dhewe…!” Keluar kraton, Arimbi berbaju ksatria, menunggu kehadiran Brojodento. Bertarunglah keduanya, dan dapat diduga Arimbi jadi bulan-bulanan.
Kresno (atau entah siapa) menegur Gathutkoco: “Ibumu diidak-idak, kok kowe meneng wae le…?”
Gathutkoco segera keluar, berdiri di tengah, mendepak Brojodento. “Oh paman, sekiranya memang paman ingin duduk di singgasana, silakan saja. Aku ora milik pangkat, aku ra milik drajat rojo brono.” Tapi, bagaimanapun, Brojodento tetaplah ksatria: “Haha… Ojo koyo mengkono Gathut… Kowe opo aku sing mati…?!”
Keduanya bertempur tiada habisnya. Hingga Brojomusti, pada masa jeda, mendekati Gathutkoco dan menceritakan rahasia kematian Brojodento: dia akan manjing di tangan kanan Gathutkoco, dan hendaknya tangan itu ngeplak kepala Brojodento. “Ning kowe kudu siap nek sak banjure ono kedadean sing ngedap-edapi…”
“Yo, gek cepet,” kata Gathutkoco. Ksatria harus menang.
Dalam pertempuran terakhir Gathutkoco berhasil ngeplak kepala Brojodento. Dengan tangan kanannya yang sudah terisi Brojomusti. Brojodento menggelepar tewas, dan seketika itu pula Brojomusti keluar dari tangan Gathutkoco menggelepar tewas.
Si Gathut menangis. “Oh, paman… koyo mengkono lelabuhanmu marang aku…”
*