Sukses Finansial ala Miliarder Dunia

KOMPAS.com — Warren Buffett sukses menjadi orang terkaya di dunia, begitu pun dengan tujuh miliarder dunia lainnya. Kuncinya, bergaya hidup sederhana ditambah memiliki perencanaan keuangan yang tepat dan matang. Simak kiatnya.

Warren Buffett
Pria berusia 81 ini masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia, terkenal sebagai investor andal, punya banyak perusahaan, serta memiliki aset sekitar 47 miliar dollar AS. Ia memulai kisah suksesnya sejak usia belasan. Berikut kiat ala Buffett:
* Menabung dan investasi. Sejak remaja, ia menyimpan sebagian besar penghasilannya dari pekerjaan sebagai loper koran dan investasi saham yang menguntungkan. Uang yang ia dapatkan digunakan untuk membeli tanah. Sebab, ia tahu kalau investasi memberinya “penghasilan lebih” dibandingkan hanya dengan menabung.
* Tak menggunakan kartu kredit. Ia bilang, “Beli apa yang Anda butuhkan, bukan inginkan. Utang dan bunganya akan mencekik kita dan tak akan membuat kita kaya.”

Carlos Slim Helu
Pada 2010, majalah Forbes menetapkan Carlos sebagai orang terkaya, mengalahkan Bill Gates dan Warren Buffett. Kalau mau, pria 71 tahun ini bisa menghamburkan uangnya sebesar 1.000 dollar AS (sekitar Rp 9 juta) hanya dalam satu menit. Inilah cara Carlos sukses menjadi miliarder:
(more…)

Sabtu kemarin aku nonton wayang semalam suntuk, dari jam 21 hingga jam 04 jelang subuh. Dalangnya Seno Nugroho, tempatnya Pasar Talok, Gendeng, Jogja. Penyelenggaranya Kelurahan Baciro, dalam rangkaian pentas seni di berbagai tempat dalam rangka HUT Kota Jogja ke-255 (terlahir 7 Oktober 1756, ditandai dengan masuknya Mangkubumi ke Keraton Jogja. Tanggal kelahiran ini sama dengan HKBP, 1850-an). Lakonnya: Jumenenge Pringgondani.

Setahunan lalu (?) saya nonton cerita yg sama persis, dengan dalang yg sama, sinden juga 7-9 orang itu (seorang di antaranya cantiknya cemlorot tenan). Bedanya waktu itu judul lakonnya adalah: Gathotkoco Winisudo. Ada bintang tamu yg banyak: Siapa Gareng (?), Cak Dikin dan Nurhana bersama wadyobolo mereka. Ada Mr. Mendem dan Tragedi Tali Kotang, selain –sudah barangtentu— Caping Gunung. Tempatnya: ex stasiun Ngabean. Sponsornya: Hanafi Rais, dengan dana tak terbatas –tapi akhirnya kalah tipis dalam pilkada Kota Jogja bulan lalu. (Kasihan betul dia itu. Saya tidak tahu, siapa yg berkehendak agar dia jadi walikota: dirinya, bapaknya, ibunya, atau orang2 berjiwa kerdil yg tak punya nyali maju sendiri…? Yg maunya cari untung saja tapi selamat dunia akhirat…? Anak ini, dalam pidatonya, terkesan belum cukup matang. Persis Gathotkoco. Bedanya si Gathut benar2 dilantik, Hanafi gigit jari. Milyaran duit melayang –risiko yg pastinya telah diduga sebelumnya.)
*

Syahdan Brojodento telah mengikhlaskan negoro Pringgondani dikelola oleh kakak-perempuannya: Arimbi. “Mengikhlaskan”, karena –menurut Durno dan Sengkuni– jabatan raja itu harusnya ada di tangannya, setelah Raja Arimbo sebagai anak mbarep tewas (entah di tangan siapa….Pandu?). Arimbi perempuan, tidak berhak, tidak pantas jadi raja menurut paugeran kenegaraan pada zamannya. Dan ketika Arimbi akan melintirkan kekuasaan itu kepada anaknya, Gathutkoco, Brojodento tidak mau menerimanya –atas bisikan Durno. Sesungguhnyalah Brojodento menghikhlaskan itu, karena dulu telah bersumpah di depan Arimbi, tapi nalar yg disodorkan Durno sangatlah masuk akal.

Maka ketika Brojodento diajak saudara-kembarnya Brojomusti untuk bertandang ke Pringgondani menyaksikan pelantikan Gathutkoco, dia menolak keras dan meminta Brojomusti berpendapat serupa dengannya. Tapi Brojomusti emoh: “Aku ksatria…sumpahku mengikatku, disaksiken Tuhan Ingkang Murbengjagat. Logika kenegaraan hanyalah ciptaan menungso… bisa salah, bisa diubah. Aku tak akan nyusrup ludah yg telah kutumpahkan sendiri!!!”

Brojodento kalap. Dihajarnya Brojomusti yang, ditemani Kolobendono yg idiot tapi lurus nalar dan hatinya, memilih bergegas lari ke Pringgondani.

Sementara itu Pringgondani sudah penuh sesak oleh tamu undangan yg gagah-gagah anggun perbowo. Mereka resah, Brojodento dan Brojomusti tak kunjung hadir. Para penggedhe tidak sabar, maka upacara wisuda Raja Gathukoco dilaksanakan tanpa kehadiran kedua paman itu.

Begitu acara selesai, Brojomusti tiba dengan nafas terengah-engah, menceritakan maliking hati Brojodento. Arimbi tersengat. Teriakannya melengking menyayat hati. (Mataku berkaca-kaca hampir menangis. Sebagai ibu, proteksinya terhadap Gahutkoco tak terbatas. Bisa kubayangkan, betapa kemropoknya Bu Amin atas kalahnya Hanafi…mungkin.)

Arimbi: “Kok koyo mengkono kowe, Brojodento. Kok ra mbiyen-mbiyen kondho nek kowe pingin dadi ratu…?! Mreneo, Brojo, tak tandangi. Koyo lenang-lenango dhewe…!” Keluar kraton, Arimbi berbaju ksatria, menunggu kehadiran Brojodento. Bertarunglah keduanya, dan dapat diduga Arimbi jadi bulan-bulanan.

Kresno (atau entah siapa) menegur Gathutkoco: “Ibumu diidak-idak, kok kowe meneng wae le…?”

Gathutkoco segera keluar, berdiri di tengah, mendepak Brojodento. “Oh paman, sekiranya memang paman ingin duduk di singgasana, silakan saja. Aku ora milik pangkat, aku ra milik drajat rojo brono.” Tapi, bagaimanapun, Brojodento tetaplah ksatria: “Haha… Ojo koyo mengkono Gathut… Kowe opo aku sing mati…?!”

Keduanya bertempur tiada habisnya. Hingga Brojomusti, pada masa jeda, mendekati Gathutkoco dan menceritakan rahasia kematian Brojodento: dia akan manjing di tangan kanan Gathutkoco, dan hendaknya tangan itu ngeplak kepala Brojodento. “Ning kowe kudu siap nek sak banjure ono kedadean sing ngedap-edapi…”

“Yo, gek cepet,” kata Gathutkoco. Ksatria harus menang.

Dalam pertempuran terakhir Gathutkoco berhasil ngeplak kepala Brojodento. Dengan tangan kanannya yang sudah terisi Brojomusti. Brojodento menggelepar tewas, dan seketika itu pula Brojomusti keluar dari tangan Gathutkoco menggelepar tewas.

Si Gathut menangis. “Oh, paman… koyo mengkono lelabuhanmu marang aku…”

*

Pas HUT RI ke-66 saya kebagian ngisi kultum bakda subuh di mushola kampung. Saya browsing CD al Quran, mencari kata merdeka, terjajah, penjajah, negara, bangsa, musyawarah dan adil. Berikut ini hasilnya. Dan inilah tafsir saya atas rangkaian ayat tersebut:

Merdeka itu nikmat, rahmat Tuhan (5:20). Karena nikmat, kita harus menikmatinya. Jangan hanya elit pemimpin dan birokrat dan pengusaha yg bisa menikmati kemerdekaan itu, tapi kita semua. Seluruh rakyat! Pemimpin harus mengkondisikan, menciptakan suasana, membuat struktur dan menjaga sistem, agar seluruh rakyat menikmati kemerdekaan itu….!

Tidak ada kata “terjajah” atau apalagi “penjajah” dalam al Quran. Yang ada “merdeka”, dan hanya 3 ayat! Bahkan kata “negara” hanya 1 ayat! Yang banyak (20 ayat) adalah “adil”.

Menjajah, ekspansi, eksploitasi itu tidak diajarkan, tidak disuruh, tidak dianjurkan. Tapi tidak jelas dilarang atau tidak. Mestinya dilarang. Kita dianjurkan memerdekakan! Bahwa dulu para khalifah melakukan ekspansi ke negeri2 tetangga, itu pada mulanya pastilah dengan misi untuk membebesakan. Menyerang, mengekspansi, untuk membebaskan rakyat di daerah ekspansi dari penjajah atau penguasa lalim. Menjajah untuk membebaskan! Pada mulanya…. Bahwa pada waktu2 berikutnya tidak seperti itu…entah bagaimana harus dijelaskan. Pada mulanya para pendiri RI berniat baik. Bahwa kemudian menjadi diktator…. Pada mulanya Soeharto berniat baik. Bahwa kemudian jadi otoriter… Pada mulanya gerakan reformasi berniat baik. bahwa kemudian para penguasa menjadikan negeri bancaan… Monggo dianalisis sendiri.

Maka 20 ayat mengingatkan kita untuk berbuat adil. Adillah! Berkatalah benar, jujur apa adanya. Bloko suto. Kebenaran itu dekat dengan adil, adil itulah manifestasi takwa…. Tapi orang enggan berkata benar, jika dengan itu dia akan kehilangan jabatan, harta dan tahta…. Terserah! Hidup adalah pilihan. Sudah jelas, mana jalan kanan, mana jalan kiri. Tidak satupun di antara kita yang pernah ditakdirkan untuk bergerak di jalan kanan, tidak juga kiri. Kitalah yang harus memilih, lalu mempertanggunjawabkannya di akhirat…!

(more…)

Tadi sore seorang jebolan fakultas teknologi pertanian UGM memberikan pengajian jelang buka yg luar biasa:

Puasa, siam, shaum adalah: menahan diri, menekan hawa nafsu, menyiapkan rohani pada siang hari, untuk kemudian membaca, tadarus Quran pada malam hari. Qiyamul lail pada bulan Ramadhan yg terutama adalah membaca, mendalami arti al Quran. Dan membacanya al Quran itu sambil salat. Nabi Muhammad membaca al Baqarah, Ali Imran dst. setiap rakaat! Hingga khatam dalam satu-dua hari! Karena itu dua rakaat saja sudah capek, beristirahat. Tarawih adalah: salat yg diselai istirahat!

Nabi melaksanakan salat malam semacam itu di rumah saja, tidak berjamaah di masjid.

Ramadhan adalah bulan turunnya al Quran. Maka: puasa di siang hari dan mengkaji al Quran pada malam hari! Puasa itu identik, paralel dengan meresapi al Quran! Agar ruh kita matang, dan di akhir bulan “idul fitri”: kembali ke fitrah, seperti sediakala ketika masih bayi bugil mungil tanpa dosa cacat cela!

Karena itu yg menerjang ketentuan, paugeran Quran hanya akan memperoleh lapar-dahaga. Tidak akan kembali fitri. Apa paugeran itu? Ialah: tidak musyrik, tidak durhaka pada orang tua, tidak berzina, tidak makan harta riba dst. Jadi: kalau berlapar-dahaga seharian full tapi tetap menerjang yg itu-itu ya hanya dapat lapar-dahaga sahaja.

Obat hanya akan bisa menyembuhkan penyakit, kalau kita menghindari penyebab penyakit itu. Anda nggak mungkin sembuh dari diabetes, sekalipun rutin minum pil –karena tetap minum sirup tiap hari….
*

Bulan Sya’ban adalah ruwah: ngruwat, membersihkan diri, untuk bersiap2 memasuki Ramadhan. Padusan adalah menebus dosa! Akui semua kesalahan, mintalah maaf! Dan masukilah Ramadhan dengan santai, khusyu’ asyik-masyuk!

Syawal adalah: meningkat ruhaninya!
*

Selamat malam Jumat..!

“Janganlah sebagian kamu memakan harta sebahagian yg lain di antara kamu dengan cara yg batil, dan janganlah kamu membawa harta kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui!” (QS Al-Baqarah 2: 188)

Ringkasnya: Janganlah menyuap! (Jangan mempengaruhi proses pengambilan keputusan dengan iming2 harta-benda!) Dan luar biasanya, ayat itu mengakhiri paragraf tentang puasa, yg dimulai ayat 183.

Luar biasa! Paragraf tentang puasa diakhiri dengan larangan menyuap. Menyuap adalah batil! Menjijikkan! Busuk! (Korupsi berasal dari Lt. corruptio > corrumpere –artinya berbau busuk! Juga berarti rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok.)1]

Hayo bos… piye ki jal..? Fee ki piye? Cash back ki piye…? Hadiah? Parcel…?

“Wahai orang2 beriman, berpuasalah kalian sebagaimana orang2 terdahulu, agar kamu bertakwa…!” (2:183) Ciri orang bertakwa itu: tidak menyuap!

Para kyai lupa, hampir tidak pernah terdengar mengucapkan hal ini. Maka tidak mengherankan: Indonesia adalah negeri religius. Cirinya: para pejabatnya korupsi, para pengusahanya menyuap, para premannya memeras, dan rakyat meminta2, mengajukan proposal ini-itu kepada semua calon bupati, gubernur dan presiden. Money politics merebak tumbuh subur.

Perahu kita digerogoti oleh kita semua. Mau oleng ya olenglah, dan kita semua tenggelam…! (Yg kaya bisa beli pelampung dan menyelamatkan diri ke pulau dewata… Lha yg kere…? Biarlah mampus nyemplung neroko well…!)

—-
1] Rachmat Yunianto, “Korupsi = corrumpere = busuk”, dalam
http://www.facebook.com/topic.php?uid=42837767268&topic=5998, dibuka 3 Agustus 2011.

Next Page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.